Patung Macan Putih Kediri Ditawar Rp 180 Juta, Menjadi Fenomena Ekonomi Desa

KEDIRI, – Patung macan putih yang terletak di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, yang sebelumnya menuai kritikan karena bentuknya yang dianggap aneh, kini berbalik menjadi fenomena bernilai tinggi. Patung yang dibangun dengan dana pribadi sekitar Rp 3,5 juta tersebut telah menarik perhatian luar biasa dan bahkan ditawarkan dengan harga fantastis hingga Rp 180 juta.

Suwari, sang seniman yang menciptakan patung ini, mengungkapkan bahwa tawaran tersebut datang dari seseorang yang mengaku berasal dari Bali. Namun, meskipun harga yang ditawarkan sangat menggiurkan, Suwari memilih untuk menolaknya. “Sempat ada yang menawar sampai Rp 180 juta, katanya orang Bali, tapi saya tolak,” kata Suwari pada Senin (5/1/2026). Namun, alasan di balik penolakan tersebut tidak dijelaskan lebih lanjut oleh Suwari.

Patung macan putih tersebut memang sempat menjadi bahan ejekan di media sosial, dengan banyak warganet yang menyebutnya mirip dengan kuda nil atau zebra. Namun, lambat laun, patung ini justru menjadi daya tarik tersendiri, bahkan menggerakkan perekonomian desa setempat. Warga Desa Balongjeruk kini merasakan dampak positif dari fenomena ini, dengan semakin banyaknya pengunjung yang datang untuk berfoto dan menyaksikan langsung patung tersebut.

Kepala Desa Balongjeruk, Safi’i, menyatakan rasa syukurnya atas dampak positif yang ditimbulkan oleh patung macan putih ini. Ia menyebut bahwa patung tersebut tidak hanya menjadi simbol desa, tetapi juga turut meningkatkan kesejahteraan warga melalui sektor pariwisata. “Patung ini sudah menjadi ikon desa yang mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat sekitar. Kami akan terus berupaya menata kawasan di sekitar patung agar tetap nyaman dan tertib,” ujar Safi’i.

Patung macan putih ini sendiri terinspirasi dari cerita rakyat setempat, yang menganggap macan putih sebagai penjaga atau danyang desa secara spiritual. Proses pembuatannya dilakukan oleh Suwari selama 19 hari dengan biaya jasa sekitar Rp 2 juta dan material senilai Rp 1,5 juta.

Walaupun sempat menuai pro dan kontra, Kepala Desa Safi’i menganggap semua komentar yang muncul di media sosial sebagai bahan evaluasi untuk perbaikan ke depan. Kini, patung yang dulunya diejek justru menjadi daya tarik bagi wisatawan, membuktikan bahwa sesuatu yang dianggap tidak biasa bisa berbalik menjadi fenomena yang menguntungkan.

Dengan kehadiran patung ini, Desa Balongjeruk kini mulai dikenal luas, membawa harapan bagi peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, terutama para pelaku UMKM. Safi’i berharap, ke depan, patung macan putih bisa terus memberikan manfaat bagi desa dan meningkatkan kesejahteraan warganya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *