SURABAYA – Warga Kelurahan Banjar Sugihan, Kecamatan Tandes, Surabaya berhasil mengubah kawasan padat penduduk menjadi destinasi wisata tematik bernama Kampung Jepang. Inisiatif ini murni digerakkan oleh warga tanpa bantuan CSR atau pemerintah, menjadikannya contoh pengelolaan wisata berbasis kemandirian masyarakat.
Komang, perintis Kampung Jepang, mengatakan proyek ini bermula dari partisipasi warga dalam lomba lingkungan, seperti Surabaya Smart City dan lomba kampung tematik. “Awalnya ikut lomba, tapi kami ingin keberlanjutan. Tantangan utamanya mengubah mindset warga agar peduli lingkungan,” ujar Komang, Selasa (13/1).
Pengelolaan kampung dilakukan oleh tim RT 5 dengan 14 pengelola, memanfaatkan barang bekas untuk pembangunan properti dan taman. Kampung Jepang menawarkan pengalaman edukasi budaya dan lingkungan, termasuk penyewaan kostum Jepang seharga Rp 25 ribu per set. Omzet sewa kostum bisa mencapai Rp6 juta per bulan, yang dibagi secara transparan: 50 persen untuk pengelola, 25 persen untuk perawatan, dan 25 persen untuk kas RT. Sistem ini membuka lapangan pekerjaan bagi warga, mulai dari pengelola, UMKM, parkir, hingga spot foto.
Meskipun menggunakan tema Jepang, Komang menegaskan fokus utama kampung adalah mengangkat kearifan lokal dan memupuk kemandirian masyarakat. “Jepang hanya kendaraan agar menarik dan viral. Tujuan utama adalah kampung mandiri dan menonjolkan kualitas warga,” ujarnya.
Kampung Jepang kini terdaftar di Dinas Pariwisata Kota Surabaya sebagai salah satu dari sepuluh kampung tematik yang direkomendasikan untuk dikunjungi. Dengan pengelolaan mandiri, transparan, dan berbasis komunitas, Kampung Jepang Surabaya menunjukkan bahwa revitalisasi kawasan kumuh menjadi destinasi wisata produktif bisa dimulai dari inisiatif warga sendiri.
Transformasi ini tidak hanya menghadirkan ruang edukasi dan budaya, tetapi juga meningkatkan ekonomi lokal, memperkuat kebersamaan warga, serta membangun kesadaran lingkungan. Kampung Jepang menjadi contoh konkret bahwa perubahan signifikan dapat dicapai melalui kemandirian dan kreativitas masyarakat.


