Jember Masuk 5 Besar PAD Tertinggi di Jawa Timur, Tembus Rp1 Triliun

JEMBER – Kabupaten Jember berhasil mencatatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) mencapai Rp1 triliun, menempatkan daerah ini di peringkat kelima tertinggi di Jawa Timur dan menjadi yang tertinggi di wilayah Karesidenan Besuki. Capaian ini membuktikan bahwa peningkatan PAD dapat dicapai tanpa perlu menaikkan tarif pajak dan retribusi yang dapat membebani masyarakat.

Bupati Jember, Muhammad Fawait, menjelaskan bahwa kebijakan fiskal yang diterapkan di Kabupaten Jember diarahkan untuk memberikan insentif yang terukur dan berbasis data, tanpa meningkatkan tarif pajak atau retribusi. “Pajak dan retribusi tidak boleh menjadi alat yang mencekik masyarakat. Justru harus kita kelola untuk membangun peradaban dan kesejahteraan,” kata Fawait pada Kamis (22/1/2026).

Dalam menghadapi pengetatan fiskal nasional, Pemerintah Kabupaten Jember mengambil langkah berbeda. Di bawah kepemimpinan Fawait, kebijakan fiskal berfokus pada pengurangan dan pembebasan retribusi serta pajak pada momen-momen strategis, seperti penggratisan retribusi parkir dan penurunan retribusi pasar. Kebijakan ini, menurut Fawait, bukanlah keputusan populis, melainkan hasil perhitungan yang matang dan berbasis data.

“Setiap kebijakan fiskal yang kami ambil berbasis data dan kajian. Kami menghitung dampaknya terhadap ekonomi dan kepatuhan wajib pajak,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa ketika masyarakat diberi ruang untuk bernapas, ekonomi pun bergerak, dan PAD justru tumbuh.

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Jember, Achmad Imam Fauzi, menambahkan bahwa peningkatan PAD ini merupakan hasil dari kebijakan fiskal yang presisi. Insentif fiskal yang diberikan secara terukur meningkatkan kepatuhan wajib pajak dan memperluas basis penerimaan. “Yang naik bukan tarifnya, tetapi partisipasi dan aktivitas ekonominya,” katanya.

Keberhasilan ini juga didorong oleh integrasi dan kolaborasi lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang terlibat dalam pengelolaan PAD. Fawait menegaskan pentingnya kolaborasi antar-OPD untuk mencapai target PAD, tanpa ada ego sektoral. “Target PAD adalah target bersama. Tidak boleh ada ego sektoral, yang ada adalah kolaborasi,” tegasnya.

Dengan capaian ini, Jember tidak hanya mencatatkan prestasi fiskal, tetapi juga memperkenalkan model kemandirian fiskal yang berkeadilan, rasional, dan berkelanjutan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *