SURABAYA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem dengan melakukan pengecekan terhadap 71 titik Early Warning System (EWS) di berbagai daerah rawan bencana, mulai Banyuwangi hingga Pacitan, Kamis (5/3/2026).
Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Soebroto, menjelaskan, “Rencananya, ada 71 EWS yang meliputi EWS banjir di 27 titik, EWS longsor di 27 titik, dan sirine tsunami di 17 titik, akan dilakukan pengecekan. Pengecekan ini penting untuk memastikan kondisi fisik dan fungsinya bagi peringatan dini masyarakat sekitar.”
Pengecekan lapangan ini mencakup sirine tsunami di Pantai Rajegwesi, Banyuwangi, EWS banjir di Desa Klungkung, Jember, serta EWS longsor di kaki bukit Kelopo Kembar, Desa Kandangan, Pesanggaran, Banyuwangi. Gatot menambahkan, “Suara alarmnya cukup keras, terdengar hingga di perempatan jalan desa yang jaraknya lebih dari satu kilometer. Sehingga bisa menjadi peringatan warga agar segera melakukan evakuasi.”
Manfaat EWS bagi masyarakat nyata, seperti di Desa Klungkung, di mana sekitar 800 KK menerima peringatan dini ketika debit air sungai meningkat. “Kebetulan warga desa di sana masih banyak yang sering mandi di sungai, meski mereka sudah punya kamar mandi di rumah. Mereka sering menerima peringatan dini dari alarm yang berbunyi saat air mulai naik,” terang Gatot.
Pengecekan langsung EWS selain pemantauan melalui dashboard kantor merupakan strategi krusial untuk memastikan keandalan sistem. Pendekatan ini menekankan kesiapsiagaan berbasis teknologi dan masyarakat, mengurangi risiko korban dan kerugian materi selama musim cuaca ekstrem.
Gatot menegaskan, “Selain masyarakat yang harus meningkatkan kewaspadaannya, peralatan EWS juga kami cek kondisinya dan personel BPBD juga kami tingkatkan kesiagaannya.” Ia berharap kolaborasi antara masyarakat, relawan, dan BPBD di tingkat kabupaten/kota terus diperkuat untuk memaksimalkan efektivitas mitigasi bencana.
Langkah ini memperlihatkan bahwa Jawa Timur memprioritaskan pencegahan berbasis teknologi dan partisipasi masyarakat, menjadikan EWS sebagai alat strategis dalam perlindungan jiwa dan aset warga saat cuaca ekstrem terjadi.


